Jumat, 13 November 2015

Arti Filsafat secara etimologi dan Konseptual

Pengertian Filsafat: Oleh Dr. Yonas Muanley, M.Th. Penghantar kepada kesimpulan mendefinisikan filsafat. Menurut Jan Hendrik Rapar, filsafat adalah mater scientiarum atau induk ilmu pengetahuan. Filsafat disebut induk ilmu pengetahuan karena memang filsafatlah yang telah melahirkan segala ilmu pengetahuan yang ada. Pengakuan ini tidak berarti mendewakan dan memuliakan filsafat. Namun hal yang hendak ditegaskan dalam pengakuan ini yakni sejak kehadiran filsafat memberi peranan yang penting yakni filsafat berguna bagi manusia. Pada sisi lain, rohaniawan dan teolog menyatakan filsafat sebagai “ancilla theologiae” yaitu budak atau pelayan teologi. Sebagai pelayan teologi, filsafat memiliki tugas memformulasikan argmentasi-argumentasi yang kuat untuk membela isi iman Kristen. Adapula rohaniawan dan teolog yang menuding filsafat sebagai alat Iblis terkutuk. Karena itu harus ditolak oleh semua orang beriman. Tudingan ini tidak sepenuhnya benar. Tuhan tidak menciptakan manusia sebagai robot tetapi manusia memiliki pikiran. Dengan pikiran itu berlangsunglah filsafat tetapi tidak semua berpikir adalah filsafat. Berpikir yang dikategorikan filsafat adalah berpikir yang berlangsung dalam syarat-syarat tertentu (Rapar, 2000:12-13). Memang harus diakui bahwa ada hal-hal tertentu dalam berfilsafat yang dapat menyimpang dari ajaran sehat. Oleh karena itu berfilsafat harus berlangsung dalam kawalan iman dan dilindungi kasih. Usaha memahami filsafat dilakukan melalui studi kata/etimologi, dan definisi menurut para ahli. Secara etimologi, kata “filsafat” berasal dari bahasa Yunani yaitu dari kata: philosophia, kata philosophia merupakan kata majemuk yang terdiri dari kata: philos dan Sophia. Kata “philos” berarti kekasih atau bisa juga sahabat. Sedangkan Sophia berarti kebijaksanaan atau kearifan, bisa juga berarti pengetahuan. Jadi, arti harafiahnya: philosophia berarti: yang mencintai kebijaksanaan atau sahabat pengetahuan Definisi Para Ahli Jan Hendrik Rapat menyimpulkan dua definisi Plato tentang pengertian filsafat. Pertama, filsafat adalah ilmu pengetahuan yang berusaha meraih kebenaran yang asli dan murni. Kedua, filsafat adalah penyelidikan tentang sebab-sebab dan asas-asas yang paling akhir dari segala sesuatu yang ada atau filsafat adalah usaha mencari kejelasan dan kecermatan secara gigih yang dilakukan secara terus menerus (Louis O. Kattsoff, 1996:2) Aristoteles (murid Plato): Ada beberapa pengertian yang dikemukakan Aristotales terhadap filsafat. Pertama, filsafat adalah ilmu pengetahuan yang senantiasa berupaya mencari prinsip-prinsip dan penyebab-penyebab dari realitas yang ada. Kedua, filsafat adalah ilmu pengetahuan yang berupaya mempelajari “peri ada selaku peri ada” (being as being) atau “peri ada sebagaimana adanya” (being as such) Rene Descartes (Filsuf Prancis), dengan argument “Aku berpikir maka aku ada” (cogito ergo sum). Menyatakan filsafat adalah himpunan dari segala pengetahuan yang pangkal penyelidikannya adalah mengenai Tuhan, alam, dan manusia. William James (Filsuf Amerika) seorang tokoh pragmatism dan pluralism menyatakan: filsafat adalah suatu upaya yang luar biasa hebat untuk berpikir yang jelas dan terang. R. F. Beerling (mantan guru besar filsafat UI) menyatakan filsafat adalah suatu usaha untuk mencapai radix atau akar kenyataan dunia wujud, juga akar pengetahuan tentang diri sendiri. Berdasarkan definisi-definisi di atas mari kita mencermati pernyataan ini: orang menyatakan bahwa filsafat “tidak membuat roti”. Ucapan ini benar. Namun filsafat dapat menyiapkan tungkunya, menyisihkan noda-noda dari tepungnya, menambah jumlah bumbunya secara layak, dan mengangkat roti itu dari tungku pada waktu yang tepat. Hal ini berarti bahwa tujuan filsafat ialah mengumpulkan pengetahuan manusia sebanyak mungkin, mengajukan kritik dan mengevaluasi/menilai pengetahuan tersebut, menemukan hakekatnya, dan menerbitkan serta mengatur semuanya itu di dalam bentuk yang sistematis. Jadi, menurut Louis Kattsoff, filsafat membawa kita kepada pemahaman dan tindakan. Artinya filsafat membawa kita kepada pemahaman, dan pemahaman membawa kita kepada tindakan yang lebih layak. Kegiatan kefilsafatan ialah pemikiran secara ketat. Filsafat merupakan pemikiran secara sistematis. Filsafat senantiasa bersifat menyeluruh/komprehensif (Louis O. Kattsoff, 1996:3-4,6,12). Apakah paparan di atas telah menolong kita dalam memahami filsafat. Jika belum maka perhatikan lagi definisi berikut: Filsafat adalah berpikir radikal (berpikir mendalam). Menurut definisi ini, berfilsafat berarti berpikir secara radikal terhadap seluruh realitas atau realitas tertentu. Berpikir radikal tidak berarti mengubah, membuang, atau menjungkirbalikan segala sesuatu, melainkan dalam arti sebenarnya, yaitu berpikir secara mendalam, untuk mencapai akar persoalan yang dipermasalahkan. Berpikir radikal sebenarnya hendak memperjelas realitas, lewat penemuan serta pemahaman akan akar realitas itu sendiri (Rapar, 2000:21)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar